Kurikulum2019 mata pelajaran Bahasa Indonesia secara umum bertujuan supaya akseptor didik bisa mendengarkan, membaca, memirsa, berbicara, dan menulis. Kompetensi dasar dikembangkan menurut 3 hal yang saling bekerjasama dan saling mendukung dalam membuatkan pengetahuan siswa, memahami, dan mempunyai kompetensi mendengarkan, membaca, memirsa secarakeseluruhan tujuan pembelajaran bahasa indonesia di sekolah menengah pertama dan mts ialah (1) mempunyai sikap religius (2) mempunyai sikap sosial, (3) memiliki pengetahuan yang memadai tentang berbagai genre teks bahasa indonesia sesuai dengan jenjang pendidikan yang ditempuhnya, dan (4) mempunyai keterampilan membuat banyak sekali genre Tujuanmata pelajaran Bahasa Indonesia di SD/ Madrasah Ibtidaiyah yaitu : 1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis, 2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, 3. Kurikulum2013 menggunakan pendekatan berbasis teks atau berbasis genre untuk mata pelajaran bahasa indonesia dan bahasa inggris. Pertama kurikulum 2013 beriorientasi pada karakteristik kompetensi yang mencakup beberapa aspek sikap dimana menurut krathwohl berisikan tentang sikap menerima menjalankan menghargai menghayati dan mengamalkan Filename: Word count: 3565 Character count: 23339 Mata Pelajaran Sejarah SMA di Kurikulum 2013. 16 % belajar sejarah menjadi anak Indonesia. Kurikulum 2013 selain menempatkan mata pelajaran sejarah pada kelompok mata pelajaran wajib serta peminatan, bila dilihat dari ceramah tentang menutup aurat laki laki dan perempuan. Pada Kurikulum 2013, pengembangan kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia menggunakan pendekatan pembelajaran bahasa berbasis teks. Melalui pendekatan ini diharapkan siswa mampu memproduksi dan menggunakan teks sesuai dengan tujuan dan fungsi sosialnya, bahasa Indonesia diajarkan bukan sekadar sebagai pengetahuan bahasa, melainkan sebagai teks yang mengemban fungsi untuk menjadi sumber aktualisasi diri penggunanya pada konteks sosial-budaya akademis. Metode pembelajaran bahasa Indonesia pada jenjang SMP, SMA, dan SMK terdiri atas empat tahap, yaitu 1 membangun konteks, 2 pemodelan teks, 3 pembuatan teks secara bersama-sama, dan 4 pembuatan teks secara mandiri. Dalam petunjuk teknis implementasi Kurikulum 2013 setiap mata pelajaran Permendikbud Nomor 58 Tahun 2014 dalam lampiran III dinyatakan bahwa guru berperan aktif dalam pengembangan budaya di sekolah. Perilaku dan sikap peserta didik tumbuh berkembang selama berada di sekolah dan perkembangannya dipengaruhi oleh struktur dan budaya sekolah, serta interaksi dengan komponen yang ada di sekolah, seperti kepala sekolah, guru, dan antar peserta didik. Drs. Teuku Husni, M. Pd., Widyaiswara LPMP Aceh. Email teukuhusni68 PENDAHULUAN Pengembangan kurikulum menjadi sangat penting sejalan dengan kontinuitas kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya serta perubahan masyarakat pada tataran lokal, nasional, regional, dan global di masa depan. Aneka kemajuan dan perubahan itu melahirkan tantangan internal dan eksternal yang di bidang pendidikan. Karena itu, implementasi Kurikulum 2013 merupakan langkah strategis dalam menghadapi globalisasi dan tuntutan masyarakat Indonesia masa depan. Hasil studi internasional untuk reading dan literacy PIRLS menunjukkan bahwa sebagian besar 95% siswa Indonesia hanya mampu menjawab persoalan sampai tingkat menengah. Artinya, 5% siswa Indonesia hanya mampu memecahkan soal yang memerlukan mengapa pelajaran bahasa Indonesia belum juga mampu membangun cara berpikir siswa, padahal fungsi utama bahasa selain sebagai sarana komunikasi juga merupakan sarana pembentuk pikiran. Ada apa dengan pelajaran bahasa Indonesia kita di sekolah-sekolah? Depdiknas, 2014c3 Hasil analisis lebih jauh untuk studi PIRLS menunjukkan bahwa soal-soal yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dibagi menjadi empat kategori, yaitu 1 low mengukur kemampuan sampai level knowing, 2 intermediate mengukur kemampuan sampai level applying, 3 high mengukur kemampuan sampai level reasoning, dan 4 advance mengukur kemampuan sampai level reasoning with incomplete information. Dalam kaitan itu, perlu dilakukan langkah penguatan materi dengan mengevaluasi ulang ruang lingkup materi yang terdapat di dalam kurikulum dengan cara meniadakan materi yang tidak esensial atau tidak relevan bagi peserta didik, mempertahankan materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, dan menambahkan materi yang dianggap penting dalam perbandingan internasional. PEMBAHASAN Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 Pada Kurikulum 2013, pengembangan kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia menggunakan pendekatan pembelajaran bahasa berbasis teks. Pada pendekatan ini diharapkan siswa mampu memproduksi dan menggunakan teks sesuai dengan tujuan dan fungsi sosialnya, bahasa Indonesia diajarkan bukan sekadar sebagai pengetahuan bahasa, melainkan sebagai teks yang mengemban fungsi untuk menjadi sumber aktualisasi diri penggunanya pada konteks sosial-budaya akademis. Teks dimaknai sebagai satuan bahasa, baik verbal maupun nonverbal, yang mengungkapkan makna secara kontekstual. Teks adalah satuan bahasa yang mengandung makna, pikiran, dan gagasan yang lengkap secara kontekstual. Teks tidak selalu berwujud bahasa tulis, sebagaimana lazim dipahami, misalnya teks Pancasila yang sering dibacakan pada saat upacara. Teks dapat berwujud baik tulis maupun lisan, bahkan dalam multimoda, teks dapat berwujud perpaduan antara teks lisan atau tulis dan gambar/animasi/film. Teks itu sendiri memiliki dua unsur utama, yaitu konteks situasi dan konteks budaya. Konteks situasi berkenaan dengan penggunaan bahasa yang di dalamnya terdapat register yang melatarbelakangi lahirnya teks, yaitu adanya sesuatu pesan, pikiran, gagasan, ide yang hendak disampaikan field; sasaran atau partisipan yang dituju oleh pesan, pikiran, gagasan, atau ide itu tenor; dan format bahasa yang digunakan untuk menyampaikan atau mengemas pesan, pikiran, gagasan, atau ide itu mode. Terkait dengan format bahasa tersebut, teks dapat diungkapkan ke dalam berbagai jenis, misalnya deskripsi, laporan, prosedur, eksplanasi, eskposisi, diskusi, naratif, cerita petualangan, anekdot, dan lain-lain. Konteks yang kedua adalah konteks situasi dan konteks budaya masyarakat tutur bahasa yang menjadi tempat jenis-jenis teks tersebut diproduksi. Konteks situasi merupakan konteks yang terdekat yang menyertai penciptaan teks, sedangkan konteks sosial atau konteks budaya lebih bersifat institusional dan global. Struktur teks membentuk struktur berpikir, sehingga di setiap penguasaan jenis teks tertentu, siswa akan memiliki kemampuan berpikir sesuai dengan struktur teks yang dikuasainya. Dengan berbagai macam teks yang dikuasainya, siswa akan mampu menguasai berbagai struktur berpikir. Bahkan, satu topik tertentu dapat disajikan ke dalam jenis teks yang berbeda dan tentunya dengan struktur berpikir yang berbeda pula. Hanya dengan cara itu, siswa kemudian dapat mengonstruksi ilmu pengetahuannya melalui kemampuan mengobservasi, mempertanyakan, mengasosiasikan, menganalisis, dan menyajikan hasil analisis secara memadai. Selain itu, secara garis besar teks dapat dipilah atas teks sastra dan teks nonsastra. Teks sastra dikelompokkan ke dalam teks naratif dan nonnaratif. Adapun teks nonsastra dikelompokkan ke dalam teks jenis faktual yang di dalamnya terdapat subkelompok teks laporan dan prosedur dan teks tanggapan yang dikelompokkan ke dalam subkelompok teks transaksi dan eksposisi. Dengan memperhatikan jenis-jenis teks di atas, termasuk unsur utama yang harus ada di dalam teks, melalui pembelajaran bahasa berbasis teks, materi sastra dan materi kebahasan dapat disajikan. Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia Metode pembelajaran bahasa Indonesia pada jenjang SMP, SMA, dan SMK terdiri atas empat tahap, yaitu 1 tahap membangun konteks, 2 tahap pemodelan teks, 3 tahap pembuatan teks secara bersama-sama, dan 4 tahap pembuatan teks secara mandiri. Membangun Konteks Tahapan pertama dalam pembelajaran berbasis teks dimulai dari memperkenalkan konteks sosial dari teks yang dipelajari. Kemudian mengeksplorasi ciri-ciri dari konteks budaya umum dari teks yang dipelajari serta mempelajari tujuan dari teks tersebut. Selanjutnya adalah dengan mengamati konteks dan situasi yang digunakan. Misalnya dalam teks eksposisi, siswa harus bisa memahami peran dan hubungan antara orang-orang yang berdialog apakah antar teman, editor dengan pembaca, guru dengan siswa, dan sebagainya. Siswa juga harus memahami media yang digunakan apakah percakapan tatap muka langsung atau percakapan melalui telepon. Membangun konteks melalui kegiatan mengamati teks dalam konteksnya dan menanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan teks yang diamatinya. Pada langkah membangun konteks siswa dapat didorong untuk memahami nilai spiritual, nilai budaya, tujuan yang melatari bangun teks. Pada proses ini siswa mengeksplorasi kandungan teks serta nilai-nilai yang tersirat di dalamnya. Di sini siswa dapat mengungkap laporan hasil pengamatan untuk bahan tindak lanjut dalam kegiatan belajar. Kegiatan yang dapat dilakukan di dalam kelas adalah a mempresentasikan konteks. Untuk menyajikan suatu konteks, bisa menggunakan berbagai media antara lain melalui gambar, benda nyata, field-trip, kunjungan, wawancara kepada narasumber dan sebagainya, b membangun tujuan sosial. Untuk mengetahui tujuan sosial bisa melalui diskusi, survey, dan yang lainnya, c membandingkan dua kebudayaan. Membandingkan penggunaan teks antara dua kebudayaan berbeda, yaitu kebudayaan kita dengan kebudayaan penutur asli, d Membandingkan model teks dengan teks yang lainnya. Contohnya membandingkan percakapan antara teman dekat, teman kerja, atau orang asing. Pemodelan Pada tahap ini, siswa mengamati pola dan ciri-ciri dari teks yang diajarkan. Siswa dilatih untuk memahami struktur dan ciri-ciri kebahasaan teks. Pada langkah ini siswa didorong untuk meningkatkan rasa ingin tahu dengan memperhatikan 1 simbol, 2 bunyi 3 tata bahasa, dan 4 makna. Melalui analisis fakta dan data pada teks yang dipelajarinya siswa memperoleh model imbuhan, struktur imkata, frase, klausa, kalimat, maupun paragraf. Semua hal tersebut siswa pelajari pada konteks pemakaiannya. Pada tahapan ini siswa dapat mengeksplorasi jenis teks yang dipelajarinya serta mengenali ciri-cirinya. Proses aktivitas pengenalan bukan sebagai tujuan akhir pembelajaran, melainkan sebagai awal kegiatan untuk mengembangkan daya cipta. Pada tahap pemodelan, guru dapat mengenalkan nilai, tujuan sosial, struktur, ciri-ciri bentuk, serta ciri kebahasaaan yang menjadi penanda teks yang diajarkan. Kegiatan yang siswa lakukan pada tahap ini adalah siswa diminta membaca teks, tanya jawab tentang makna teks, melabeli teks, diskusi kelompok. Menyusun Teks Secara Bersama Dalam tahapan ini, siswa mulai memahami keseluruhan teks. Guru secara perlahan mulai mengarahkan siswa agar mandiri sehingga siswa menguasai model teks yang diajarkan. Kegiatan yang dapat dilakukan di dalam kelas antara lain mendiskusikan jenis teks, melengkapi teks rumpang, membuat kerangka teks, melakukan penilaian sendiri atau penilaian antar teman sebaya, dan bermain teka-teki. Siswa menggunakan hasil mengeksplorasi model-model teks untuk membangun teks dengan cara berkolaborasi dalam kelompok. Melalui kegiatan ini diharapkan semua siswa dapat memperoleh pengalaman mencipta teks sebagai dasar untuk mengembangkan kompetensi individu. Menyusun Teks Secara Mandiri Setelah melalui tahapan kesatu sampai tahapan ketiga, siswa telah memiliki pengetahuan mengenai model teks yang diajarkan. Siswa mulai memiliki kemampuan yang cukup untuk membuat teks yang mirip dengan model teks yang diajarkan. Dalam tahapan ini, siswa mulai mandiri dalam mengerjakan teks dan peran guru hanya mengamati siswa untuk yang dapat dilakukan dalam tahapan ini antara lain a Untuk meningkatkan kemampuan mendengarkan, siswa merespon teks lisan, menggaris bawahi teks, menjawab pertanyaan, dan lain-lain, b Untuk meningkatkan kemampuan mendengarkan dan berbicara, siswa bermain peran, melakukan dialog berpasangan atau berkelompok, c Untuk meningkatkan kemampuan berbicara, siswa melakukan presentasi di depan kelas, d Untuk meningkatkan kemampuan membaca, siswa merespon teks tertulis, menggaris bawahi teks, menjawab pertanyaan, dan lain-lain, e Untuk meningkatkan kemampuan menulis, siswa membuat draft dan menulis teks secara keseluruhan. Guru sebagai Pengembang Budaya Sekolah Dalam petunjuk teknis implementasi Kurikulum 2013 setiap mata pelajaran Permendikbud Nomor 58 Tahun 2014 dalam lampiran III dinyatakan bahwa guru berperan aktif dalam pengembangan budaya di sekolah. Perilaku dan sikap peserta didik tumbuh berkembang selama berada di sekolah dan perkembangannya dipengaruhi oleh struktur dan budaya sekolah, serta interaksi dengan komponen yang ada di sekolah, seperti kepala sekolah, guru, dan antarpeserta didik. Sekolah sebagai aktivitas belajar harus menciptakan budaya sekolah yang sehat dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Peran guru dalam proses pembelajaran di sekolah harus mengondisikan pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didikuntuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagiprakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, danperkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks dilaksanakan dengan menerapkan prinsip bahwa 1 bahasa hendaknya dipandang sebagai teks, bukan semata-mata kumpulan kata-kata atau kaidah-kaidah kebahasaan, 2 penggunaan bahasa merupakan proses pemilihan bentuk-bentuk kebahasaan untuk mengungkapkan makna, 3 bahasa bersifat fungsional, yaitu penggunaan bahasa yang tidak pernah dapat dilepaskan dari konteks karena bentuk bahasa yang digunakan itu mencerminkan ide, sikap, nilai, dan ideologi penggunanya, dan 4 bahasa merupakan sarana pembentukan kemampuan berpikir manusia, dan cara berpikir seperti itu direalisasikan melalui struktur teks. Berdasarkan prinsip tersebut guru berperan untuk membuat peserta didik agar gemar membaca dan gemar menulis di sekolah maupun di rumah. Semakin banyak jenis teks yang dikuasai siswa, makin banyak pula struktur berpikir yang dapat digunakannya dalam kehidupan sosial dan akademiknya nanti. Hanya dengan cara itu, peserta didik dapat mengonstruksi ilmu pengetahuannya melalui kemampuan mengobservasi, mempertanyakan, mengasosiasikan, menganalisis, dan menyajikan hasil analisis secara memadai. Sosok guru sebagai multifungsi perlu menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Keteladanan guru dalam budaya sekolah menjadi contoh bagi peserta didik, misalnya guru masuk ke dalam kelas tidak terlambat, guru mengajar dengan metode yang menarik dan menyenangkan, guru menghargai pendapat peserta didik, guru jujur dalam memberikan penilaian otentik tidak pilih kasih, guru gemar membaca yang ditandai dengan wawasan dan pengetahuan guru yang baik. Budaya sekolah yang baik salah satunya dapat ditunjukkan dengan adanya jalinan kerja sama antarguru mata pelajaran yang berbeda. Misalnya, guru mata pelajaran bahasa Indonesia dapat berkolaborasi dengan guru mata pelajaran IPA atau IPS dalam pembelajaran menulis laporan ilmiah. Hubungan antarguru yang akrab dan harmonis dapat diamati dan dirasakan peserta didik. Hal ini mendorong hubungan peserta didik dengan guru dapat terjalin dengan baik. Begitu pula hubungan peserta didik baru dengan peserta didik lama terjalin dengan baik sehingga bentuk kekerasan dapat terhindari. Budaya sekolah yang baik dapat pula diamati dari jalinan interaksi antara sekolah dengan masyarakat dan orang tua. Kerja sama yang baik antarsekolah dengan masyarakat dapat diwujudkan melalui menyukseskan program-program sekolah sehingga sekolah tersebut bisa tetap eksis. KESIMPULAN Melalui pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks dalam Kurikulum 2013, siswa diharapkan mampu memproduksi dan menggunakan teks sesuai dengan tujuan dan fungsi sosialnya. Bahasa Indonesia diajarkan bukan sekadar sebagai pengetahuan bahasa, melainkan sebagai teks yang berfungsi untuk menjadi sumber aktualisasi diri penggunanya pada konteks sosial-budaya akademis. Teks dipandang sebagai satuan bahasa yang bermakna secara kontekstual. Metode pembelajaran bahasa Indonesia pada jenjang SMP, SMA, dan SMK terdiri atas empat tahap, yaitu 1 tahap pembangunan konteks, 2 tahap pemodelan teks, 3 tahap pembuatan teks secara bersama-sama, dan 4 tahap pembuatan teks secara mandiri. Sehubungan dengan perubahan konten materi dan metode pembelajaran bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013, guru perlu meng-upgrate pengetahuan dan meningkatkan kompetensinya sesuai dengan tuntutan kurikulum dan tantangan zaman. Oleh Drs. Teuku Husni, M. Pd., Widyaiswara LPMP Aceh. Email teukuhusni68 Pelajar Sekolah Dasar. Foto Fanny Kusumawardhani/kumparanSalah satu komponen terpenting dalam sistem pendidikan adalah kurikulum. Kurikulum 2013 membawa pembaharuan dari kurikulum sebelumnya, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan sebelumnya, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan KTSP yang telah membawa perubahan mendasar dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Kurikulum juga dapat dimaknai sebagai rancangan pengalaman yang akan diperoleh siswa ketika kurikulum tersebut diimplementasikan. Yani, 2014 2 kurikulum sering dijadikan pusat dari sistem penggerak komponen pendidikan lainnya. Karena itu timbul pemahaman kurikulum diartikan sebagai kumpulan dari berbagai pengalaman yang akan dipelajari siswa. Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang diterapkan mulai tahun ajaran 2013/2014 dan berasal dari pengembangan kurikulum sebelumnya, yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi KBK dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan KTSP. Pada kurikulum ini aspek softskill dan hardskill lebih ditekankan kepada siswa dengan tujuan untuk meningkatkan dan menyeimbangkan kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan siswa Fadlillah, 2014 16-17.Tema Kurikulum 2013 adalah menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, afektif, melalui penguatan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang terintegrasi. Guna mewujudkan hal tersebut, guru dituntut untuk lebih profesional merancang pembelajaran afektif, dan bermakna menyenangkan, mengorganisasikan pembelajaran, memilih pendekatan pembelajaran yang tepat, menentukan prosedur pembelajaran dan pembentukan kompetensi secara terselenggaranya kesuksesan Implementasi Kurikulum 2013, peranan guru dalam kegiatan pembelajaran sangatlah penting. Guru sebagai penggerak kegiatan siswa dalam kelas harus memastikan bahwa kegiatan pembelajaran di sekolah telah sesuai dengan standar pendidikan, baik dalam persiapan, pelaksanaan, dan penilaian. Dalam pelaksanaannya, guru tidak akan mungkin terlepas dari sebuah hambatan atau masalah. Adanya Perubahan dalam pembelajaran bahasa Indonesia tersebut diiringi dengan kompetensi guru dalam penerapan pembelajaran bahasa dengan paradigma baru yaitu pembelajaran berbasis teks. Mata pelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis. Pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 disajikan dengan menggunakan pendekatan berbasis teks. Teks merupakan ungkapan pikiran manusia yang lengkap yang di dalamnya memiliki situasi dan konteks, dengan kata lain belajar bahasa Indonesia tidak sekadar memakai bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, tetapi perlu juga mengetahui makna atau bagaimana memilih kata yang tepat yang sesuai tatanan budaya dan masyarakat 2013 merupakan penyempurnaan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan KTSP yang pada dasarnya adalah perubahan pola pikir dan budaya mengajar dari kemampuan mengajar tenaga pendidik dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 ini diperlukan pemahaman yang mendalam dari para pelaksana dan pemahaman tersebut akan menjadi bekal pelaksana dalam menyukseskan penerapan Kurikulum 2013 di lapangan. Menghadapi permasalahan tersebut diperlukan perubahan yang cukup mendasar dalam sistem pendidikan nasional, perubahan mendasar tersebut berkaitan dengan kurikulum yang dengan sendirinya menuntut dan mempersyaratkan berbagai perubahan pada komponen-komponen pendidikan yang lain. Implementasi Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi harus melibatkan semua komponen, termasuk komponen-komponen yang ada dalam sistem pendidikan itu sendiri. Proses pembelajaran merupakan salah satu komponen Standar Nasional Pendidikan yang menjadi perubahan besar penerapan kurikulum baru. Penerapan kurikulum ini tentu dilakukan secara bertahap. Perubahan pada proses pembelajaran yang paling menonjol adalah dalam pendekatan dan strategi pembelajaran yang dikenal dengan pendekatan saintifik. Pengembangan Kurikulum 2013 memerlukan peran aktif pendidik dalam proses pembelajaran di kelas. Pendidik sebagai ujung tombak pengembangan kurikulum sekaligus sebagai pelaksana kurikulum di lapangan yang menjadi faktor kunci dalam keberhasilan suatu kurikulum. Jadi, guru dituntut untuk dapat meningkatkan kinerja dan menerima kebijakan pemerintah mengenai Kurikulum 2013 dengan menguasai program, prinsip mekanisme serta strategi Kurikulum 2013 untuk dapat memperbaiki kegiatan belajar mengajar di kelas secara konseptual. Kurikulum 2013 menjadi salah satu solusi menghadapi perubahan zaman yang mengutamakan kompetensi yang disinergikan dengan nilai-nilai karakter. Perubahan dan pengembangan kurikulum merupakan persoalan yang sangat penting, karena kurikulum harus senantiasa disesuaikan dengan perkembangan pendidikan. Pemerintah telah mensosialisasikan Kurikulum 2013, Namun dalam penerapannya masih mengalami banyak kendala. Pemerintah belum menyamaratakan pembinaan dan sosialisasi kepada guru mengenai Kurikulum 2013. Sosialisasi sangat penting dilakukan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing agar kurikulum baru dapat diterapkan secara optimal. Sebagai kurikulum yang baru, Kurikulum 2013 akan menghadapi berbagai masalah dan tantangan dalam penerapannya dalam menerapkan Kurikulum 2013 ini, justru kesiapan pemerintah yang belum maksimal terhadap para guru, setelah berjalan pelaksanaan Kurikulum 2013 banyak sekali permasalahan yang muncul. Mulai dari guru yang kurang siap dalam menggunakan kurikulum baru, pendistribusian bahan ajar yang kurang maksimal, media yang harus selalu disertakan dalam setiap pembelajaran, metode dan strategi yang harus disusun agar sesuai dengan acuan Kurikulum berproses tentu tak lepas dari sebuah kendala yang terkadang tidak kita inginkan. Sebaik apa pun proses pembelajaran yang kita laksanakan selalu ada kekurangan yang ada. salah satunya adalah saat pembelajaran teks ulasan di dalam kelas. Masih terdapat kendala-kendala yang tidak bisa dihindari. Kendala tersebut tidak hanya dari guru melainkan dari peserta didik. Dalam Permendikbud 81 A tahun 2013 dijelaskan bahwa kegiatan pembelajaran merupakan proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi mereka menjadi kemampuan yang semakin meningkat dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan. Berdasarkan hasil penelitian, pelaksanaan pembelajaran dalam kurikulum 2013 dapat terlaksana dengan baik. Selama proses pembelajaran, guru sebagai penentu arah pembelajaran telah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun, yang meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutupan. Seperti yang dinyatakan oleh Fadlilah 2014 182-187 bahwa yang menjadi karakteristik pembelajaran Kurikulum 2013 adalah dalam teknik pembelajaran yang dikenal dengan pendekatan saintifik, pelaksanaan pembelajaran Kurikulum 2013 terbagi menjadi tiga, yakni kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, kegiatan pembelajaran yang termuat dalam RPP meliputi 1 kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup yang disajikan dalam bentuk tabel. Deskripsi kegiatan telah dijabarkan dalam tabel yang disertai dengan pembagian alokasi waktu dan pendidikan karakter pada setiap bagiannya; 2 Pelaksanaan Pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis Kurikulum 2013, guru menekankan pembelajaran pada aspek teori terlebih dahulu dan memperhatikan pengetahuan mengenai materi yang diajarkan tersebut. Pada pertemuan kedua, guru mengarahkan pembelajaran pada pencapaian keterampilan membaca teks ulasan cerpen yang materinya tersedia di buku ajar. Pada proses pembelajaran membaca dan menganalisis teks ulasan di sekolah sudah berjalan dengan baik dan telah menerapkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Pada hal ini telah mendorong sebuah motivasi, minat, kreativitas dan semangat belajar. Hal ini ditunjukkan dalam pembelajaran sudah menggunakan pendekatan saintifik yaitu mengamati, menanya, menalar, mengasosisasi, dan mengomunikasikan; 3 Kendala-kendala yang ditemui pada proses pembelajaran teks ulasan cerpen berdasarkan kurikulum 2013 adalah a kendala Guru yang terdiri dari perencanaan, materi ajar atau bahan ajar, dan media yang digunakan. Selanjutnya b kendala peserta didik yang terdiri dari Pemahaman kurang terhadap materi pembelajaran, Suasana kelas tidak kondusif, Kurang berminat terhadap materi, Kesulitan mengembangkan beberapa saran lain yang dapat disampaikan adalah pertama bagi guru; 1 mengikuti dan mencermati perkembangan peraturan pemerintah, 2 menumbuhkan sikap kritis dan kemampuan menyusun strategi pembelajaran, 3 menciptakan suasana pembelajaran yang akrab dan menyenangkan, 4 memberikan motivasi dan pengertian belajar dengan Kurikulum 2013 secara efektif kepada siswa. Bagi sekolah penyelenggaran Kurikulum 2013; 1 membentuk tim pengembang dan pengelolaan kurikulum, 2 mengembangkan dan melengkapi fasilitas sekolah. Pemerintah Pusat agar 1 membentuk syarat-syarat pembelajaran dan system kurikulum dengan memperhatikan kondisi latar belakang tiap sekolah, dan 2 melakukan monitoring dan evaluasi secara menyeluruh. Abstract Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk multijenjang selalu bergerak dinamis mengikuti perkembangan manusia sebagai penglaku dan pemilik bahasa itu sendiri. Bahasa berkembang mengikuti pergerakan jaman. Oleh karena itu, kedinamisan rancangan pembelajaran bahasa juga turut serta didalamnya. Penyempurnaan Kurikulum 2006 ke Kurikulum 2013 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia diletakkan pada pembelajaran Bahasa Indonesia yang berbasis teks. Pembelajaran berbasis teks dirumuskan sebagai formula efektif untuk mensejajarkan pelaksanakan pendekatan ilmiah pendekatan saintifik sebagai teman sejati dalam pelaksanaan Kurikulum 2013. Teks yang diformulasikan ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai pengejewantahan dari sistem budaya, sistem sosial, sistem kepribadian, dan sistem tingkah laku yang berlaku di masyarakat. Hadirnya konteks budaya nilai, norma dalam teks dapat ditunjukkan, misalnya pada teks laporan dan teks deskripsi. Hakikat dilaksanakannya pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis teks itu sendiri adalahpertama melalui teks, kemampuan berpikir siswa dapat dikembangkan; kedua materi pembelajaran berupa teks lebih relevan dengan karakteristik Kurikulum 2013 yang menetapkan capaian kompetensi siswa yang mencakupi ketiga ranah pendidikan sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Selain itu, pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis teks dimaknai sebagai pembelajaran yang mengantarkan peserta didik untuk dapat berpikir sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis. 1 Bahasa Indonesia Petunjuk Umum A. Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Pengembangan kurikulum, termasuk Bahasa Indonesia, merupakan konsekuensi logis dari perkembangan kehidupan dan perkembangan pengetahuan tentang bahasa dan bagaimana cara berbahasa yang terwujud dalam teori belajar bahasa terkini. Perkembangan teori belajar bahasa berkontribusi terhadap pemahaman tentang hakikat bahasa, hakikat bagaimana manusia belajar dan hakikat komunikasi interkultural, dan sekaligus tentang manusia itu sendiri yang kesemuanya ini saling berkaitan dengan saling berdampak satu sama lain. Pemahaman hal ini dimaksudkan untuk peningkatan mutu pembelajaran Bahasa Indonesia secara berkesinambungan. Kurikulum Bahasa Indonesia secara ajeg dikembangkan mengikuti perkembangan teori tentang bahasa dan teori belajar bahasa yang sekaligus menjawab tantangan kebutuhan zaman. Hal ini dimulai sejak 1984 hingga sekarang Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi dengan “outcomes-based curriculum”. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari SKL. Demikian pula penilaian hasil belajar dan hasil kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi. Keberhasilan kurikulum diartikan sebagai pencapaian kompetensi yang dirancang dalam dokumen kurikulum oleh seluruh peserta didik. Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar para siswa memiliki kompetensi berbahasa Indonesia untuk berbagai fungsi komunikasi dalam berbagai kegiatan sosial. Kegiatan yang dirancang dalam buku diharapkan dapat membantu siswa mengembangkan kompetensi berbahasa, kognisi, kepribadian, dan emosi siswa. Selain itu, pembelajaran Bahasa Indonesia diharapkan dapat menumbuhkan minat baca dan minat menulis. Sehubungan dengan tujuan-tujuan tersebut, pembelajaran Bahasa Indonesia dikembangkan berdasarkan pendekatan komunikatif, pendekatan berbasis teks, pendekatan CLIL content language integrated learning, pendekatan pendidikan karakter, dan pendekatan literasi. Konsep utama pengembangan buku teks ini adalah berbasis-genre. Genre dimaknai sebagai kegiatan sosial yang memiliki jenis yang berbeda sesuai dengan tujuan kegiatan sosial dan tujuan komunikatifnya. Masing-masing jenis genre memiliki kekhasan cara pengungkapan struktur retorika teks dan kekhasan unsur kebahasaan. Inilah cara pandang baru tentang bahasa. Pada Kurikulum 2006 pembelajaran Bahasa Indonesia menekankan pada pendekatan komunikatif. Kurikulum 2013 lebih menajamkan efek komunikasinya dan dampak fungsi sosialnya. Bahasa dan isi menjadi dua hal yang saling menunjang. Content Language Integrated Learning menonjolkan empat unsur penting sebagai penajaman pengertian kompetensi berbahasa, yaitu isi content, bahasakomunikasi communication, kognisi cognition, dan budaya culture. 2 Kelas VII SMPMTs Alokasi waktu Mata Pelajaran Bahasa Indonesia adalah 6 jam per minggu. Jam belajar SMP adalah 40 menit. Pemetaan keseluruhan kelas diringkas pada tabel berikut. Pemetaan Genre Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Berdasarkan Kompetensi Dasar KI-3 Dan KI-4 SMP Urutan Logis Genre dan lokasi sosialnya Kelas 7 Kelas 8 Kelas 9 1 Deskripsi mendeskripsikan objek dan peristiwa Rekon berita Laporan percobaan eksperimen 2 Narasi cerita fantasi Eksposisi iklan, slogan, poster Eksposisi pidato Persuasif 3 Prosedur cara melakukan sesuatu dan membuat sesuatu Eksposisi artikel ilmiah popular Narasi cerita pendek 4 Laporan hasil observasi buku pengetahuan Puisi puisi ttg perjuangan, lingkungan hidup, kondisi sosial, dll Literasi laporan peta konsep, alur buku dan tanggapan membaca buku 5 Puisi puisi rakyat pantun, syair, puisi rakyat daerah Eksplanasi paparan tentang fenomena alam Diskusi pro kontra permasalahan, seperti kesadaran pajak, korupsi, lingkungan hidup, dll. 6 Narasi fabellegenda daerah Responreview produk budaya ilm, cerpen, puisi, novel, karya seni daerah Narasi cerita inspiratif ungkapan simpati, kepedulian, empati, perasaan pribadi 7 Rekon recount dan Eksposisi surat pribadi, surat dinas Eksposisi saran, ajakan, arahan, pertimbangan Literasi laporan peta konsep, alur buku dan tanggapan membaca buku 8 Literasi laporan dan tanggapan membaca buku NarasiFiksi drama tradisional dan modern - Catatan • Literasi dintegrasikan pada tiap akhir bab dan dibahas pada akhir bab. • Jabaran KD untuk tiap unit dituliskan pada panduan khusus tiap unit • Untuk SMP tiap tahun harus membaca minimal 4 buku iksi dan noniksi 3 Bahasa Indonesia B. Karakteristik Mata Pelajaran Bahasa Indonesia KARAKTERISTIK, TUJUAN, RUANG LINGKUP MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA Karakteristik, Tujuan, Ruang Lingkup Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Dalam Kurikulum 2013. Pemerintah, melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, telah memberlakukan Kurikulum 2013, setelah melakukan kajian tahap demi tahap, yang diawali dengan mengevaluasi secara menyeluruh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan KTSP yang sudah diberlakukan sejak tahun 2006. Mata pelajaran Bahasa Indonesia memiliki peranan yang sangat strategis dalam Kurikulum 2013. Peran utama mata pelajaran bahasa Indonesia adalah sebagai penghela ilmu pengetahuan. Dengan menyebarkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif maka peran bahasa Indonesia sebagai penghela ilmu pengetahuan akan terus berkembang seiring dengan perkembangan bahasa Indonesia itu sendiri. Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Pertama dan MTs Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia diturunkan dari Permendikbud Nomor 54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Standar Kompetensi Lulusan kemudian diturunkan menjadi Kompetensi Inti KI.Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama dan MTs mempunyai empat tujuan utama yang tertuang dalam kompetensi inti masing-masing jenjang pendidikan. Secara keseluruhan tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama dan MTs ialah 1 mempunyai sikap religius 2 mempunyai sikap sosial, 3 memiliki pengetahuan yang memadai tentang berbagai genre teks bahasa Indonesia sesuai dengan jenjang pendidikan yang ditempuhnya, dan 4 mempunyai keterampilan membuat banyak sekali genre teks bahasa Indonesia. Setiap pengetahuan tentang berbagai genre teks bahasa Indonesia harus diimplementasikan dalam produk berupa karya, artinya pengetahuan tersebut harus bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam membuat karya sesuai dengan genre teks yang ada. Selanjutnya pengetahuan-pengetahuan yang dipelajari siswa harus bisa mengubah perilaku siswa terutama yang berhubungan dengan sikap sosial dan religiusnya. Ruang Lingkup Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Pertama dan MTs Ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia Sekolah Menengah Pertama dan MTs meliputi 15 jenis teks, yaitu 1 teks anekdot, 2 teks eksposisi, 3 teks laporan hasil observasi, 4 teks prosedur komplek, 5 teks negosiasi, 6 teks kisah pendek, 7 teks pantun, 8 teks kisah ulang, 9 teks eksplanasi kompleks, 10 teks film/ drama, 11 Teks cerita sejarah, 12 teks berita, 13 teks iklan, 14 teks editorial/opini, dan 15 teks novel. Hakikat Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Hakikat pembelajaran Bahasa Indonesiaadalah proses berguru memahami dan memproduksi gagasan, perasaan, pesan, informasi, data, dan pengetahuan untuk berbagai keperluan komunikasi keilmuan, kesastraan, dunia pekerjaan, dan komunikasi sehari-hari baik secara tertulis maupun lisan. Dalam kaitannya dengan memahami dan memproduksi gagasan, perasaan, pesan, informasi, data, dan pengetahuan untuk berbagai keperluan tersebut, kegiatan berpikir mempunyai peranan sangat penting. Bahkan berpikir merupakan kegiatan sentral yang memungkinkan penerima didik sanggup memahami dan memproduksi gagasan dan lain-lain dengan baik. Oleh karena itu, guru harus menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses berpikir secara optimal. Proses berpikir optimal yang seharusnya melekat dan terus-menerus terjadi dalam pembelajaran bahasa Indonesia harus disadari pendidik dan peserta didik dalam setiap episode pembelajaran. Ketika pendidik menghadirkan sebuah teks, misalnya, isi teks itu akan dipahami dengan baik kalau penerima didik bisa dan mau berpikir logis, kritis, dan kreatif. Selanjutnya, penerima didik akan sanggup memproduksi gagasan dan lain-lain yang baru berdasarkan gagasan-gagasan yang ditemukan dalam teks tersebut, bila peserta didik mampu dan mau berpikir dengan baik pula. Realisasi kegiatan berpikir itu misalnya menghubung-hubungkan gagasan, membandingkan gagasan, mempertentangkan gagasan, memilih-milah gagasan, menafsirkan data, menyimpulkan hasil analisis, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan-gagasan baru atau aspek-aspek gres yang akan dituangkan ke dalam tulisan atau paparan lisan dalam suatu peristiwa berbahasa tertentu. Dengan demikian, kegiatan berbahasa dan berpikir merupakan inti dalam pembelajaran berbahasa Indonesia. 2. Bahasa Indonesia sebagai Sarana Perekat Bangsa Bahasa Indonesia memiliki peran sentral untuk mempersatukan bangsa dan sarana pengembangan intelektual, sosial, dan emosional penerima didik. Selain itu, penguasaan bahasa Indonesia oleh peserta didik juga akan menunjang keberhasilan mereka dalam mempelajari semua mata pelajaran. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dibutuhkan membantu peserta didik mengembangkan potensi pikir, rasa, dan karsa untuk mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, mengemukakan gagasan dan perasaan, menemukan serta memakai kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, inventif, dan imaginatif yang ada dalam diri penerima didik. Ke arah masa depan, peserta didik memerlukan pengalaman berguru berbahasa Indonesia sebagai perekat bangsa. Proses penghayatan ini perlu diprogramkan secara terencana dan bersistem. Dengan cara ini melalui pengalaman berguru berbahasa Indonesia sebagai perekat bangsa diharapkan akan terbangun jiwa dan semangat kebersamaan penerima didik. Dengan demikian kedudukan bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa makin diperkuat melalui proses pendidikan di sekolah, sebagaimana tercerminkan dalam komunikasi sosial budayaal yang serasi di antara para penuturnya. Bahasa Indonesia juga berperan penting dalam kehidupan sehari-hari untuk berbagai keperluan, untuk berkomunikasi dengan seluruh warga bangsa dalam rangka membangun rasa dan ikatan kebersamaan secara nasional, membangun komunikasi efektif sehari-hari, membangun korelasi sosial yang harmonis komunikasi yang bermartabat, dan membangun kematangan emosional. Di sisi lain, sastra Indonesia berperan untuk penghalusan budi, peningkatan rasa kemanusiaan dan kepedulian sosial, penumbuhan apresiasi budaya, penyaluran gagasan, penumbuhan imajinasi, serta peningkatan ekspresi secara kreatif. 3. Penghela Ilmu Pengetahuan Kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, inovatif, dan bahkan inventif peserta didik perlu secara sengaja dibina dan dikembangkan. Untuk melakukan hal itu, mata pelajaran bahasa Indonesia menjadi wadah strategis. Melalui membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara penerima didik sanggup menyebarkan kemampuan berpikir tersebut secara terus-menerus yang akan diteruKIan juga melalui mata pelajaran yang lain. Hal itu harus benar-benar disadari semua guru BI agar dalam menjalankan tugasnya dapat mewujudkan mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai wadah pembinaan/ pengembangan kemampuan berpikir. Dengan mengembangkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif maka kiprah bahasa Indonesia sebagai penghela ilmu pengetahuan akan terus berkembang seiring dengan perkembangan bahasa Indonesia itu sendiri. 4. Penghalus Budi Pekerti Lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia mencakup kemampuan berbahasa dan bersastra. Melalui jenis teks sastra, bahasa Indonesia dapat dijadikan sebagai sarana penghalus budi pekerti siswa. Sastra Indonesia sebagai media ekspresi sikap kritis dan kreatif terhadap berbagai fenomena kehidupan mampu menumbuhkan kehalusan budi, kesetiakawanan sosial, kepedulian terhadap lingkungan, dan bisa membangun kencerdasan kehidupan masyarakat. Pembelajaran sastra dapat membentuk sikap kritis dan kreatif serta kepekaan terhadap berbagai fenomena kehidupan di lingkungan sosial budaya ataupun di lingkungan alam sekitar. Bersastra dapat diwujudkan melalui kegiatan apresiasi dan produksi karya sastra puisi, fiksi, dan drama. Kegiatan apresiasi karya sastra yang diawali dari membaca harus menjadi kegiatan penting dalam pembelajaran bersastra peserta didik. Melalui membaca puisi, fiksi, naKIah drama atau mendengarkan rekaman atau pembacaan puisi, cerpen, penggalan novel, dan/atau naKIah drama peserta didik terlibat dalam kegiatan reseptif. Pada kesempatan yang lain, peserta didik diajak untuk terlibat dalam kegiatan produktif untuk menulis atau menghasilkan puisi, cerpen, penggalan novel, dan/atau naKIah drama. Melalui kegiatan produktif lisan atau tulis peserta didik juga dapat mempresentasikan kinerja apresiatifnya. Dengan demikian, kegiatan reseptif dan produktif dalam bersastra akan menjadi kegiatan sambung-menyambung dalam iklim pembelajaran yang menyenangkan. 5. Pelestari Budaya Bangsa Bahasa Indonesia merupakan bab dari budaya bangsa yang perlu terus dilestarikan eksistensinya. Sebagai bagian dari budaya bangsa yang dijunjung tinggi, eksistensi bahasa Indonesia akan terus bertahan dan bahkan menguat kalau dilestarikan setiap penuturnya. Pemelajaran bahasa Indonesia dan komunitas sekolah pada umumnya, akan sangat aman untuk melestarikan eksistensi bahasa Indonesia mengingat peserta didik dan guru merupakan kelompok strategis di masyarakat untuk melestarikan eksistensi bahasa Indonesia sebagai bagian dari budaya bangsa.

karakteristik kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa indonesia